Kenthongan (sebagian menyebut
tek-tek), adalah alat musik yang terbuat dari bambu. Kenthong adalah
alat utamanya, berupa potongan bambu yang diberi lubang memanjang
disisinya dan dimainkan dengan cara dipukul dengan tongkat kayu pendek.
Kenthongan dimainkan dalam kelompok yang terdiri dari sekitar 20 orang
dan dilengkapi dengan bedug, seruling, kecrek dan dipimpin oleh mayoret.
Dalam satu grup kenthongan Kenthong yang dipakai ada beberapa macam
sehingga menghasilkan bunyi yang selaras.
Kesenian khas
Banyumasan yang sedang marak sekarang ini adalah seni kenthongan. Bentuk
kesenian karnaval atau drumband tradisional ini memang selalu menarik
untuk ditonton. Pertunjukannya yang bisa sambil berjalan/devile dan
display/bermain dalam seni konfigurasi, menjadi ciri khusus pertunjukan
kesenian kenthongan. Kesenian ini mulai muncul tahun 1997 dari kawasan
Ajibarang, Banyumas, tepatnya dari grumbul Tambakan, Desa Ajibarang
Kulon, Banyumas. Awalnya disitu muncul grup seni Thek-Thek Pring/Bambu.
Karena musik bambu ini amat lentur untuk mengiringi lagu-lagu jenis
apapun, tak pelak kesenian ini amat cepat berkembang.
Bahkan tahun
2004 telah menjadi kesenian yang benar-benar marak dan tumbuh
dimana-mana. Hampir setiap RT se Kabupaten Banyumas memiliki grup
thek-thek atau kenthongan. Bahkan saking maraknya kesenian ini tumbuh,
tahun 2004 pula seniman Edi Romadhon mengumpulkan 25 grup kenthongan
untuk bermain bersama dalam Orkestra Kenthongan, dengan jumlah pemain
1050 orang. Seribu orang lebih ini selama 3 bulan berlatih bersama
menggarap lagu-lagu populer Banyumasan seperti Megot, Baturraden dan
lagu pop/dangdut nasional seperti Kopi Lambada, Putri Panggung, dengan
format gerak konfiguratif yang menarik, dan instrumen pengiring yang
rancak. Hasilnya, rekor MURI pun terpecahkan, sebagai Orkestra Musik
Kenthongan dengan pemain terbanyak se dunia.
Upaya pelestarian dan
pengembangan kesenian khas Banyumasan memang wajib dilakukan, terutama
oleh seniman tradisi mereka sendiri. Tokoh seniman Genjring Banyumasan,
Kus Bendol mengaku salut atas pola pengembangan yang dilakukan Dewan
Kesenian Kabupaten Banyumas (DKKB). Selain berbagai kesenian tradisional
yang sudah berkembang tersebut dihidupkan dengan berbagai cara,
misalnya festival, juga ada pengembangan kreatif yang patut menjadi
contoh bagi daerah lain. �Contohnya sekarang DKKB sedang mengembangkan
kolaborasi antara seni lengger calung dengan kenthongan dan genjring.
Nama jenis kesenian baru ciptaan DKKB ini adalah Cakenjring yang
merupakan akronim dari Calung-Kenthong dan Genjring. Ternyata kolaborasi
ini amat menarik, karena nuansa agamis pun bisa disajikan dalam format
rancak gembira tak mendayu-dayu. Lewat aranger Edi Romadhon dan Sungging
Suharto, Cakenjring bakal pentas di Malaysia bulan November besok. Ini
sungguh menarik� kata Kus Bendol.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas
Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Banyumas, Darkam Anom Sugito
mengakui, seiring berjalannya waktu, sejumlah kesenian khas Banyumas ada
yang tumbuh dan tenggelam. Hal itu lantaran gejolak yang terjadi dalam
tubuh cabang seni. Antara lain tenggelam saat sudah tidak ada lagi
generasi muda yang mau meneruskan, atau semakin bertumbuh jika seni
menjadi populer serta banyak yang memperlajarinya.